Untuk menambah hafalan atau untuk mengingat-Nya?

Alqomar ayat 17 atau 22 ayat yangg familiar dan mudah dihafal

و لقد يسرنا القران للذكر فهل من مدّكر

Ayat ini menceritakan tentang janji yangg pasti hadir dari Allah. janji apa ? memudahkan urusan kita dengan Al-qur’an.

Caranya? inilah kuncinya. Ada pada kata

للذكر

huruf ل yg mendahului kata tersebut, fungsinya li ghayah lam untuk menunjukkan tujuan.

Maka, jika kita menginginkan urusan kita bersama quran menjadi mudah dan nikmat, kita perlu mencermati baik baik apa tujuan kebersamaan kita dengan Alquran.

Berdasar ayat ini, kemudahan akan hadir saat kebersamaan kita dengan Alquran diniatkan untuk dzikir. Apa itu dzikir ? Sepenuh hati dan ingatan mengingat Allah

Maka menjadi logis, jika kebersaman kita dengan Alquran, selama ini, dimaksudkan utk للحفظ, untuk menghafal Alquran, kita akan menemui banyak kesulitan. karena dari awal, niatnya untuk menghafal bukan dalam rangka mengingat Allah.

Seorang penghafal Alquran yang kebersamaan dengan Alqur’an hanya sekedar untuk hafal, belum tentu menjadi ahlul qur’an.

Tapi seorang penghafal quran, yang kebersamaan dengan Alquran dimaksdkan untuk mengingat Allah, dialah yang akan Allah jaminkan kemudahaan dan besar peluangnya menjadi keluarga Allah.

Mereka yg mengingatNya melalui Alqur’an, akan menemukan nikmatnya tilawah meski panjang, nikmatnya murojaah meski kebalik-balik, nikmatnya ziyadah meski serasa tidakk hafal hafal. Karena bersama Alquran, maknanya adalah bersama-Nya. Apakah mungkin kita akan bosan dan susah padahal sedanh bersama-Nya?

Lalu, bagaimana caranya setiap kali tilawah, setiap kali murojaah, setiap kali menghafal, semua ingatan sepenuh akal dan sepenuh hati bisa tertuju pada-Nya? Mempercepat laju perjalanan untuk pada sampai Ridho-Nya

Ya Allah, jadikanlah kami orang2 yg selalu berdzikir pada-Mu

Tulisan ini pernah disampaikan oleh gurunda, yang penyampaiannya tentunya jauh lebih baik.

Advertisements

Aku dan Al-Qur’an

Bismillahirrohmanirrohim..

 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS Az Zumar : 23)

Antara saya dan al-Qur’an, surat cinta yang Allah kirimkan kepada saya. Al Qur’an memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan saya. Bagaimana Al-Quran menuntun saya saat saya jatuh, menyeleweng lalu taubat, lemah lalu melawan, sakit lalu bersabar.

Saya belajar Al-Qur’an sejak kecil mulai dari membaca dan belajar sedikit demi sedikit mengamalkan apa yang ada didalamnya. Keyakinan saya terhadap Al Qur’an semakin bertambah dengannya Allah hadirkan banyak sekali peristiwa.

Sejak kecil saya ingin menjadi seorang yang selalu dekat dengan Al-Qur’an yang dapat mengamalkan apa yang ada didalamnya. Cita cita itu, semakin mengakar kuat di dalam diri saya. Untuk mewujudkan impian, membutuhkan lingkungan yang kondusif yang nantinya bisa menguatkan saya saat mulai futur, jenuh, bosan dengan izin Allah. Dekat dengan Al-Qur’an adalah suatu kenikmatan yang takkan ternilai harganya, tidak banyak orang yang mampu memahaminya. Tugas kita, meminta hidayah kepada Allah agar senantiasa didekatkan dengan Al-Qur’an. Dekat dengan Al-Qur’an bukan mengurangi waktu tetapi dekat dengan Al-Qur’an dapat menggandakan waktu. Semakin saya dekat dengan Al-Qur’an entah kenapa saya merasa aktivitas yang saya lakukan lebih mudah untuk dilakukan. Hakikatnya, Al-Quran itu membersamai di setiap nafas kehidupan. Itulah mengapa menggenggam dunia di tangan bukan di hati.

Bukan hanya sekali, tapi berkali kali. Ketika saya mendapatkan masalah, Al-Qur’an menjawab semuanya. Bahkan perkataan siapapun, tak dapat menenangkan. Namun Allah kirimkan Al-Qur’an untuk menenangkan hati dan pikiran sekalipun masalah yang dihadapi belum selesai. Serasa kalau dekat sama Qur’an itu bawaanya tenang.

Salah satu cara saya agar dekat dengan Al Qur’an adalah dengan menghafalnya, saat ini saya berkomitmen ingin menyelesaikan hafalan saya dengan melakukan semampu yang saya bisa dan melakukan yang terbaik atas izin Allah. Perjalanan menjadi pengafal Al-Quran adalah perjalanan yang sangat panjang. Semoga kita adalah orang yang benar benar Allah pilihkan untuk menjadi keluarga-Nya, saat ini, esok, dan selamanya. Aamiin yaa Allah…

Review Jurnal Internasional

Review Jurnal Internasional

Title                 : Designing learning contexts using student-generated ideas

Authors           : Rachel Lam, Lung-Hsiang Wong, Matthew Gaydos, Jun Song Huang, Lay Hoon Seah, Michael Tan, Manu Kapur, Katerine Bielaczyc and William Sandoval

Source             : 12th International Conference of the Learning Sciences (ICLS 2016),         Singapore, 20-24 June 2016

Published by   : International Society of the Learning Sciences

Reviewer         : Fajar Lulu Nabilla

 

 

Berdasarkan hasil analisis yang telah saya lakukan, jurnal tersebut berisi tentang metode SGI dalam dunia pembelajaran, siswa diajarkan untuk menjadi sumber utama dalam pembelajaran. Dengan membandingkan buku dan jurnal lain yang saya baca, metode SGI ini, masuk ke dalam teori filsafat konstruktivisme. Filsafat ini, lahir karena bagaimana manusia menjadi tahu dan memiliki pengetahuan menjadi kajian penting. Di jurnal membahas tentang pandangan konstruktivisme terkait dengan proses pembelajaran.  Pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran lebih menekankan proses daripada hasil pembelajaran. Pandangan ini menganggap bahwa belajar merupakan proses aktif untuk mengkonstruksi pengetahuan. Proses aktif tersebut didukung oleh terciptanya interaksi antarsiswa dan antarsiswa dengan pendidik. Kolaborasi yang efektif  siswa diajarkan untuk merancang proses pembelajaran yang akan digunakan. Hal ini melatih siswa untuk belajar bertanggung jawab untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan masyarakat kelas yang unggul. Siswa diajarkan untuk mengemukakan gagasan dan dikomunikasikan di kelas karena gagasan tersebut penting bagi orang lain. Dengan cara ini, siswa dapat belajar banyak hal diantaranya, melatih mengemukakan gagasan, bekerjasama, menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dsb. Desain pembelajaran ini sangat menarik karena tujuan akhir pembelajaran tidak hanya terpacu pada pencapaian nilai akademis namun juga keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada zaman sekarang, sangat sulit jika menganggap hidup bukan bagian dari kompetisi. Desain ini mempromosikan keterlibatan dan didasarkan pada potensi belajar, bukan pencapaian yang diukur secara formal. Penelitian SGI merancang konteks yang cerdas daripada menilai siswa sebagai individu “cerdas” atau “tidak cerdas” (Barab & Plucker, 2006). SGI lebih suka menggunakan gagasan siswa sebagai alat untuk (a) siswa untuk memperbaiki pemahaman dan pembuatan makna dan (b) guru untuk memfasilitasi proses belajar siswa dengan mendasarkan instruksi pada representasi siswa sendiri. Siswa dan guru mungkin tidak merasa nyaman dengan persepsi dan proses ini, jadi budaya kelas yang mendukung SGI mungkin perlu dikembangkan.

Desain dengan metode ini memperkenalkan 6 penelitian yang akan digunakan ,yaitu persiapan belajar dari kolaborasi dengan menghasilkan ide karya Rachel Lam, investigasi efek pembelajaran dan transfer analogi yang dihasilkan siswa karya Jun Song Huang dan Manu Kapur, desain untuk mengatasi tuntutan bahasa sains dengan menggunakan siswa representasi karya Lay Hoon  Seah, Ruang Pembuat sebagai situs untuk mempelajari kreativitas yang diwujudkan karya Michael Tan, Merancang desain game karya Matthew Gaydos dan Pembelajaran yang tidak sempurna : Generasi dari inde dan untuk proses pembelajaran lintas konstektual karya Lung-Hsiang Wong.  Penelitian ini memiliki tujuan yang berbeda beda, namun ada kesamaan yang menonjol yaitu penelitian tersebut fokus pada gagasan yang dihasilkan siswa sebagai dasar pembelajaran.

Persiapan belajar dari kolaborasi dengan menghasilkan ide

Rachel Lam

Penelitian terkait metode pembelajaran ini, Laboratorium Ilmu Pengetahuan, National Institute of Education, Singapura digunakan untuk menciptakan inovasi pada abad ke-21 yang dilakukan pada berbagai konteks baik informal maupun formal, ranah matematika, sains, bahasa, dll.), Alat (komunikasi yang dimediasi komputer, teknologi mobile, desain permainan, dll.), dan sekolah. Perancangan ini sangat ada kaitannya dengan guru, guru sebagai pendidik memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk mengoptimalkan kemampuan peserta didik sesuai dengan tututan zaman. Pendidik harus mengetahui konsep apa yang harus digunakan sebagai dasar dan pijakan untuk mencapai tujuan agar pembelajaran berjalan optimal. Paradigma pendidik harus berpikir pembelajaran berpusat pada siswa bukan pada guru. Hal ini juga terjadi di Indonesia yaitu penerapan kurikulum 2013, pendidikan bukan lagi berpusat pada guru tetapi kepada siswa. Pendidik juga harus memahami bagaimana metode tersebut dilaksanakan. Jika dikaitkan dengan kurikulum 2013, pendidikan ini nantinya juga akan membentuk karakter siswa. Peran pendidik disini, mengembangkan  kemampuan untuk merancang pembelajaran, strategi pembelajaran, dan gagasan yang dihasilkan siswa.

Dengan menggunakan metode ini, siswa diajarkan untuk mengembangkan dan membangun pengetahuan maka diperlukan metode metode yang akan menunjang dan dapat diterapkan pada proses pembelajaran salah satunya dengan menempatkan kelompok kecil di kelas. Namun menurut Barron (2003) dan Dillenbourg (2002) menempatkan sekelompok kecil siswa di kelas tidak menjamin pembelajaran kolaboratif yang efektif. Akan efektif apabila siswa diajarkan untuk belajar berkolaboratif, menurut riset yang dilakukan seperti : mengajarkan keterampilan kolaborasi siswa sehingga siswa berkolaborasi dengan lebih baik (Asterhan & Schwarz, 2009; Rummel, Spada, & Hauser, 2009), perancah interaksional bergerak melalui petunjuk atau skrip untuk memfasilitai kolaborasi yang efektif (atau, merancang, membuat, atau merancang tugas untuk menghasilkan diskusi substantif selama kolaborasi (Engle & Conant, 2002; Kapur & Bielaczyc), atau Kolding, Rundel & Koedinger, 2011; , 2012). Dalam riset yang dilakukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berkolaborasi menekankan pada pembelajaran berkelompok dan saling berinteraksi sehingga dapat meningkatkan pemahaman melalui diskusi yang dilakukan. Selain menekankan pada pembelajaran berpusat pada siswa, Metode ini  juga menekankan pada aspek kognitif dan afektif. Artinya, pembelajaran bukan sekadar mentransfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik namun juga memiliki peranan penting dalam hal menggali kemampuan peserta didik serta dapat membentuk kepribadian yang baik seperti dapat bekerjasama antar anggota. Untuk membantu siswa dalam pembelajaran kolaborasi, guru merancang model pembelajaran dengan cara guru memberikan tugas kepada siswa setelah itu siswa diminta untuk menghasilkan gagasan secara individu dan mendiskusikannya kedalam kelompok kecil tersebut.

Rancangan karya pembelajaran yang digunakan disini disebut sebagai Persiapan untuk Kolaborasi Masa Depan (PFC). Desainnya mengacu pada paradigma Preparation for Future Learning (D. Schwartz), Kegagalan Produktif (M. Kapur), dan kerangka kerja ICAP Constructive-Active-Pasif Interaktif (M. Chi). Untuk merancang pembelajaran, peneliti bekerjasama dengan pendidik untuk siswa dari berbagai bidang studi dengan cara merekam dan menganalisis diskusi siswa. Peneliti menawarkan wawasan tentang sistem pendidkan yang kuat sampai saat ini sehingga pengajarannya telah diterima pada pendidik singapura yang jenis pengajarannya berpusat pada siswa. Dalam hal ini, seorang guru harus siap mengubah paadigma dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.

Investigasi efek pembelajaran dan transfer analogi yang dihasilkan siswa

Jun Song Huang dan Manu Kapur

Dari analisis yang saya dapatkan, penelitian ini bertujuan ntuk mengembangkan kemampuan siswa di Berdasarkan teori konstruktivisme tentang belajar disebutkan bahwa belajar itu terjadi bila adanya gambaran kesamaan antara pengetahuan yang akan dipelajari dengan apa yang telah diketahui (Bodner, 1986). Dengan adanya analogi pemikiran siswa, desain ini dapat diperluas yaitu munculya kegagalan berproduktif. Untuk mencari efek pembelajaran dari analogi yang dihasilkan siswa tersebut, Jun Song Huang dan Manu Kapur mempresentasikan tentang pembelajaran kegagalan produktif dimana untuk memperluas desain pembelajaran dengan menyelidiki efek dari gagasan siswa sebelum menerima instruksi formal. Seorang guru seringkali membenarkan kesalahan gagasan siswa banyak guru takut apabila kesalahan tersebut terus menempel, namun apabila siswa tersebut memperbaiki kesalahan sendiri maka siswa akan memiliki kepahaman yang lebih tinggi tentunya dengan arahan bukan memperbaiki secara langsung.

Apabila kegiatan yang ditargetkan untuk mengaktifkan dan membedakan pengetahuan awal, maka dinilai kurang efektif karena kebebasan akan lebih dibatasi. Siswa yang menghasilkan analogi memiliki kebebasan yang tinggi daripada siswa yang mendapatkan pemerataan terhadap  analogi yang diberikan. Pembelajaran dapat ditingkatkan bila siswa diberi tingkat kebebasan yang lebih tinggi, terutama saat mereka menghasilkan terlebih dahulu sebelum pelajaran yang membuat pemahaman mereka lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan pada dua puluh tujuh siswa kelas tujuh di sebuah sekolah anak perempuan berprestasi di Singapura. Siswa disuruh untuk merumuskan sistem persamaan linier. Bahwa dengan menyelidiki efek dari gagasan siswa sebelum menerima instruksi formal. Membantu memperluas pemahaman siswa tentang desain pembelajaran produktif gagal dan materi yang akan diajarkan.

 

Mengatasi Tuntutan Bahasa Sains dengan menggunakan siswa representasi

Lay Hoon Seah

Analisis dari penelitian tersebut adalah penelitian tersebut bertujuan untuk mengatasi tuntutan bahasa sains agar siswa tersebut faham makna apa yang terkandung didalamnya. Menyediakan suatu cara agar dapat mengetahui sampai mana kemampuan siswa dalam memahami bahasa ilmiah dan mengetahui sampai mana tuntutan yang perlu ditangani dalam pelajaran. Contohnya, guru menyoroti perbedaan makna siswa dengan penggunaan bahasa ilmiah serta guru dapat menyadarkan siswa  betapa pentingnya bahasa sains tersebut. Data yang digunakan selama penelitian yaitu wawancara guru, video pembelajaran dan video dari sesi perencanaan pelajaran dengan guru. Melalui ini, peneliti menawarkan wawasan tentang tantangan yang dihadapi guru dan beberapa cara yang mungkin agar representasi yang dihasilkan siswa berjalan efektif. Lalu, yang menjadi kaitannya tentang metode SGI adalah siswa telah memiliki gagasan tentang arti dari makna bahasa sains yang akan diajarkan tersebut. Nantinya, gagasan siswa tersebut akan dikomunikasikan terharap teori yang sudah ada atau arti dari bahasa itu yang sebenarnya. Sehingga siswa akan lebih mudah memahami. Hal yang dipelajari siswa melalui metode ini adalah gagasan linguistik dimana hal itu sangat berperan dalam dunia keilmiahan, pengakuan bahwa bahasa ilmiah memiliki ciri khas dan norma tersendiri yang membedakan dari bahasa bahasa lain yang digunakan. Representasi disini, bermaksud menghubungkan konsep antara bahasa dan makna. Penelitian tentang penggunaan bahasa ilmiah menyoroti tentang kesulitan siswa dalam menafsirkan bahasa ilmiah. Lalu yang menjadi dasarnya, bagaimana seorang guru tersebut dapat menghadapi tuntutan dalam menghadapi tantangan dan merancang pembelajaran dengan penggunaan bahasa ilmiah.

Ruang pembuat sebagai situs untuk mempelajari praktik kreativitas yang diwujudkan
Michael Tan

Analisis dari penelitian ini adalah  penelitian ini bertujuan untuk bagaimana siswa dapat berfikir suatu persoalan kemudian dapat menganalisis, mengingat , memahami, dll sehingga akan mewujudkan kreativitas. Dalam hal ini, dengan menggunakan perspektif kognisi yang diwujudkan, konteks yang menarik untuk dibahas adalah fenomena mengutak atik. Dengan kemampuan tersebut, seseorang dapat mencapai kreatifitas dan inovasi yang tinggi. Dalam penelitian ini siswa mempresentasikan sebuah desain untuk menciptakan perangkat. Data yang digunakan untuk penelitian adalah video pembelajaran siswa.

Merancang untuk desain game

Matthew gaydos

Analisis dari penelitian ini adalah  penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan kepada siswa terkait keterampilan akademis yaitu pemrograman. Contoh dari penelitian ini adalah menggunakan kartu yang dirancang agar siswa dapat berpikir terhadap target yang ditentukan. Meskipun metode ini dirasa bermanfaat, namum metode ini tidak cocok digunakan pada kelas bahasa karena peningkatan hasil penilaian dengan taruhan tinggi. Data yang diperoleh dengan cara mewawancarai guru dan siswa. Metode ini sudah dilakukan pada sistem pendidikan di Singapura. Metode ini, termasuk bagian dar metode SGI karena di tengah permainan tersebut, siswa diajarkan untuk berpikir sendiri sehinggan menghasilkan gagasan yang dihasilkan oleh siswa tersebut. Tetapi metode ini memiliki kekurangan yaitu tantangan logistik dan mungkin akan sulit dilakukan bagi siswa apabila belum terbiasa.

Pembelajaran yang tidak sempurna : Generasi Ide untuk proses pembelajaran lintas konstektual

Lung-Hsiang Wong

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pembelajaran tanpa batas yang sering dianalogikan belajar kapan saja dimana saja.  Penelitian ini menggunakan data kualitatif  karena sebagai pendukung untuk pembelajaran tanpa batas tersebut sebagai aspirasi untuk belajar sepanjang hayat. Menurut hal yang saya tangkap dan apabila dikaitkan dengan jurnal lain, Penelitian ini terjadi akibat pengetahuan pengetahuan baru dan hasilnya nanti berupa konteks yang diperlukan. Nantinya, peserta didik dapat menghasilkan gagasan selama pembelajaran tidak hanya dapi pengetahuan terkini namun juga strategi tersebut.

Daftar Pustaka

Who Am I ?

Namaku Fajar Lulu Nabilla. Orang orang biasa memanggilku Lulu, salah seorang mahasiswa Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Yogyakarta.  Aku adalah anak yang terlahir dari seorang ayah dan ibu yang hebat. Saat aku lahir, aku terlahir dalam keadaan yatim. Ayahku meninggal saat aku masih berada di dalam kandungan tapi aku percaya itulah yang terbaik yang  Allah pilihkan untukku hingga akhirnya aku memiliki seorang ayah yang sangat menyayangiku.

Saat aku mencoba mendefinisikan diriku, aku ingin mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Dahulu, Rasulullah saw  pernah ditanya oleh sahabatnya tentang siapa dirinya.  “Ya Rasulullah, kabarkanlah pada kami tentang siapa dirimu ? Rasulullah saw pun menjawab Aku adalah sewujud pengabulan dari do’a ayahku ibrahim as”  MasyaAllah yaa..

Seperti yang Rasulullah contohkan, sangat ingin aku mendefinisikan diriku “aku adalah sebentuk pengabulan do’a dari orang orang yang sholih yang dipanjatkan dengan hati yang khusyu” sebagai bentuk ikhtiarku, belajar untuk menjadi orang yang selalu didekatkan oleh Allah  yang dibingkai dengan iman dan berikhtiar juga menjadi orang yang beruntung, yang Allah dekatkan dengan Al-Qur’an dan Allah dekatkan dengan orang-orang yang berjuang mencintai Al-Qur’an. Betapa bahagianya orang beruntung itu ya Allah…

Biasanya, saat kita ditanya tentang diri kita, disana akan tertulis kelebihan dan kekurangannya. Tetapi aku percaya, apapun yang menjadi kelebihanku itu sepenuhnya Hak Allah yang Allah titipkan padaku, begitu juga dengan banyak sekali kekurangan yang ada dalam diriku itu adalah kesalahanku, alhamdulillah manusia. Seringkali manusia ini kufur nikmat. Tapi Rahmat dan ampunan-Nya jauuh lebih besar.

Jika kau tanya tentangku siapa aku. Sepenuh bahagia aku akan menjawab “Aku hanyalah sebentuk pengabulan do’a.”

Resensi Jurnal Internasional

Nama                 : Fajar Lulu N

Kelas                  : Pend. Fisika C

NIM                    : 17302241049

Judul Jurnal                 : In Physics Education, PerceptionMatters

Penulis                         : Jason R. Sattizahn1, Daniel J. Lyons1, CarlyKontra1, Susan M. Fischer2, and Sian L. Beilock1

Tanggal terbit              :1 september 2015

Dipublikasikan di        : http://tn5bn6xp5c.search.serialssolutions.com/?ctx_ver=Z39.88-2004&ctx_enc=info%3Aofi%2Fenc%3AUTF-8&rfr_id=info%3Asid%2Fsummon.serialssolutions.com&rft_val_fmt=info%3Aofi%2Ffmt%3Akev%3Amtx%3Ajournal&rft.genre=article&rft.atitle=In+Physics+Education%2C+Perception+Matters&rft.jtitle=Mind%2C+Brain%2C+and+Education&rft.au=Sattizahn%2C+Jason+R&rft.au=Lyons%2C+Daniel+J&rft.au=Kontra%2C+Carly&rft.au=Fischer%2C+Susan+M&rft.date=2015-09-01&rft.issn=1751-2271&rft.eissn=1751-228X&rft.volume=9&rft.issue=3&rft.spage=164&rft.epage=169&rft_id=info:doi/10.1111%2Fmbe.12085&rft.externalDBID=n%2Fa&rft.externalDocID=10_1111_mbe_12085&paramdict=en-US

Abstract

Student difficulties in science learning are frequently attributed to misconceptions about scientific concepts. We argue that domain-general perceptual processes may also influence students’ ability to learn and demonstrate mastery of difficult science concepts. Using the concept of center of gravity (CoG), we show how student difficulty in applying CoG to an object such as a baseball bat can be accounted for, at least in part, by general principles of perception (i.e., not exclusively physics-based) that make perceiving the CoG of some objects more difficult than others. In particular, it is perceptually difficult to locate the CoG of objects with asymmetric-extended properties. The basic perceptual features of objects must be taken into account when assessing students’ classroom performance and developing effective science, technology, engineering, and mathematics (STEM) teaching methods.

Artinya :

Kesulitan siswa dalam pembelajaran sains sering dikaitkan dengan kesalahpahaman tentang konsep ilmiah. Kami berpendapat bahwa proses persepsi domain-umum juga dapat mempengaruhi kemampuan siswa untuk belajar dan menunjukkan penguasaan konsep sains yang sulit. Dengan menggunakan konsep pusat gravitasi (CoG), kami menunjukkan bagaimana kesulitan siswa dalam menerapkan CoG ke objek seperti pemukul bisbol dapat dicatat, setidaknya sebagian, oleh prinsip persepsi umum (yaitu, tidak secara eksklusif berbasis fisika ) yang membuat melihat CoG beberapa objek lebih sulit daripada yang lain. Secara khusus, secara perseptual sulit untuk menemukan CoG objek dengan sifat asimetris-diperpanjang. Fitur persepsi dasar objek harus diperhitungkan saat menilai kinerja kelas siswa dan mengembangkan sains, teknologi, teknik, dan matematika yang efektif.
(STEM) metode pengajaran.

 

Untuk mewujudkan pembelajaran fisika yang terbilang cukup sulit di kalangan para siswa, pendidik maupun peneliti telah melakukan serangkaian proses penelitian untuk mewujudkan pembelajaran fisika yang mudah dan menyenangkan. Kebanyakan para siswa salah dalam konsep apa yang ada dalam pembelajaran tersebut dan dalam menyikapi hal tersebut dibutuhkan metode pengajaran tutorial dan menjelaskan konsep dengan cara pandang baru yang mudah dipahami. Dalam hal ini, penulis meggunakan dasar konsep pusat gravitasi (CoG) sebagai dasar penelitiannya. Perbedaan persepsi objektif dalam memandang CoG sering dialami para siswa menurut penelitian yang telah dipublikasi oleh oleh Ortiz dkk (2005). Dengan menggunakan data siswa terkait CoG, penulis memaparkan kekurangfahaman siswa dan juga persepsi objektif tentang CoG tersebut. Jadi, dalam hal ini kinerja siswa cenderung berbeda-beda. Untuk lebih memahamkan siswa, Peneliti mengajar siswa untuk belajar di luar kelas lalu mencari contoh SoG. Agar siswa ikut berkontribusi dalam memahamkan apa definisi sederhana SoG. Dalam pembelajaran, interaksi sangat dibutuhkan. Tak hanya itu, tetapi juga kedisiplinan merupakan karakteristik dasar dalam dunia pendidikan. Tidak hanya disiplin memanfaatkan waktu tetapi juga kedisiplinan dalam berfikir kritis serta bertindak. Dalam menunjang pembelajaran tersebut, penulis menjelaskan tentang metode pembelajaran STEM, Yaitu pembelajaran yang menggabungkan antara Science, Technology, Engineering and Mathematics. Pada pembelajaran fisika, teknologi digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Proses pembelajaran ini, sangat mudah dipahami apabila diterapkan dengan baik dengan cara mengintegrasikan ke empat unsur tersebut. Tetapi di dalam jurnal ini, siswa tidak dilibatkan langsung dalam memilih untuk menggunakan metode apa yang diinginkan para siswa. Apabila siswa dilibatkan langsung, dalam hal ini siswa dapat berfikir kritis, rasional dan lebih dewasa.

processes also influence physics learning? If so, this would suggest rethinking certain physics teaching methods to include consideration not only of physics concepts but also of basic learning strategies allowing for more accurate perceptual understanding.

Didalamnya terdapat pernyataan tentang bagaimana menggunakan metode yang baik untuk digunakan dalam metode pembelajaran fisika tetapi penjelasan yang ada didalamnya kurang lengkap termasuk tidak ada langkah konkrit yang ada di dalam jurnal tersebut. Disana, pembaca disuruh menelaah sendiri apa yang harus dilakukan untuk mencapai pembelajaran yang baik.

FISIKA JAYA !